KatinganSlider

Total 50 Ekor Sapi Hilang Digondol Maling

KASONGAN,GK – Kasus pencurian ternak sapi sepertinya masih menghantui masyarakat Kabupaten Katingan. Hingga saat ini, sedikitnya diperkirakan 50 ekor sapi dari berbagai daerah dilaporkan hilang dicuri komplotan maling.

Bupati Katingan Sakariyas mengatakan, hingga saat ini aparat kepolisian diketahui belum mampu menyingkap komplotan di balik aksi pencurian ternak tersebut. Biasanya, kawanan maling itu beraksi saat malam hari.

“Sampai saat ini kalau dihitung-hitung sudah ada sekitar 50 ekor sapi yang hilang dari berbagai kecamatan. Dan sampai saat ini juga belum terungkap siapa pelakunya. Saya mengajak pihak desa untuk mengaktifkan kembali sistem keamanan lingkungan (Siskamling) hingga ke tingkat RT,” ungkap Sakariyas, Senin (18/12).

Bahkan, ujarnya, beberapa pekan terakhir juga kawanan maling ternak juga menyatroni empat ekor sapi di Desa Tumbang Liting Kecamatan Katingan Hilir. Oknumnya diduga merupakan komplotan yang sama.

“Di Desa Tumbang Liting ini dalam semalam hilang empat ekor sapi sekaligus. Dari semua kejadian itu, tidak ada satupun warga pemilik ternak yang menyadari pencurian tersebut. Karena rata-rata kandang ternak di sini cukup jauh dari rumah pemilik,” imbuhnya.

Berdasarkan informasi yang beredar, dalam menjalankan aksinya komplotan maling tersebut menggunakan mobil atau truk boks untuk mengangkut hewan ternak. Targetnya adalah sapi dewasa berukuran besar.

“Sepertinya mereka cuma mencuri sapi yang berbadan besar saja. Makanya kita perlu menaruh curiga kalau ada mobil atau truk boks yang berkeliaran tengah malam,” tuturnya.

Bupati Sakariyas berharap, agar pihak kepolisian segera mengungkap kasus tersebut. Sebab, dikhawatirkan aksi tersebut akan semakin gencar terjadi jelang akhir tahun. Bahkan jika perlu melaksanakan razia malam, terutama kendaraan berjenis boks.

“Mungkin saja momen hari raya Natal dan tahun baru dimanfaatkan para maling itu. Karena biasanya kebutuhan daging sapi otomatis akan terjadi peningkatan. TNI/Polri bahkan Satpol PP saya harap bersatu untuk mengungkapnya, karena sudah meresahkan masyarakat,” pintanya.

Jika dihitung rata-rata kerugian masyarakat, maka nilai 50 ekor sapi tersebut diperkirakan mencapai Rp 750 juta. Jika tertangkap, dirinya bahkan meminta agar kawanan maling tersebut dihukum seberat-beratnya.

“Kita asumsikan saja bahwa satu ekor sapi tersebut harganya Rp 15 juta, maka didapatlah angka Rp 750 juta. Tapi saya kira kerugiannya jauh lebih besar, karena rata-rata sapi yang dicuri di atas Rp 25 jutaan,” sebutnya.

Akibat maraknya kasus pencurian, Pepep (36) warga Desa Buntut Bali Kecamatan Pulau Malan terpaksa mengevakuasi tiga ekor sapi dewasanya ke halaman rumah.

“Mau tidak mau saya harus pindahkan sapinya ke rumah, karena kandangnga cukup jauh dari permukiman penduduk. Walaupun sapinya teriak, tetap tidak ada orang yang mendengar. Sebab hampir semua peternak sapi lokal di sini, tidak ada yang memelihara sapi di dekat rumah,” ujarnya, Selasa (19/12).

Bapak dua anak itu merasa khawatir, setelah mendapat informasi bahwa pencurian ternak sapi kerap terjadi di sejumlah kecamatan. Dirinya berharap, upaya mengevakuasi sapi ke rumah dapat meminimalisir potensi kemalingan.

“Kalau dekat rumah lebih gampang dipantau, jika mendengar suara aneh sedikit saja saat tengah malam saya langsung bangun untuk memastikan. Karena semua sapi ini statusnya sudah dibeli orang, kalau sampai hilang maka rugi banyak saya,” pungkasnya. (BS)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *