DPRD Gunung MasGunung MasHeadline

Guru PLB di SLBN Kuala Kurun Minim

“Rata-rata guru yang mengajar di sini merupakan guru umum, sedangkan yang PLB cuma ada dua orang. Selain itu, kebanyakan guru statusnya juga masih honorer. Kami juga membutuhkan tenaga guru autis yang mempunyai keterampilan terapi,” ungkapnya, Rabu (11/9/2019).

 

gerakkalteng.com – KUALA KURUN – Kepala Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Kuala Kurun, Martha menuturkan, sejauh ini pihaknya memiliki 10 orang guru termasuk tenaga administrasi. Namun cuma dua diantaranya yang memiliki latar belakang pendidikan luar biasa (PLB).

“Rata-rata guru yang mengajar di sini merupakan guru umum, sedangkan yang PLB cuma ada dua orang. Selain itu, kebanyakan guru statusnya juga masih honorer. Kami juga membutuhkan tenaga guru autis yang mempunyai keterampilan terapi,” ungkapnya, Rabu (11/9/2019).

SLBN Kuala Kurun merupakan sekolah luar biasa satu-satunya di Kabupaten Gunung Mas. Sejauh ini terdapat 35 orang siswa yang bersekolah, diantaranya SD sebanyak 25 orang, SMP dan SMA masing-masing sebanyak lima orang.

“Namanya juga anak berkebutuhan khusus, jadi para siswa memang sulit diatur, terlebih bagi penyandang tuna grahita atau rendah tingkat kecerdasannya. Di sini juga terdapat peserta didik tuna rungu, autis dan tuna daksa,” sebutnya.

Sementara ini, metode pembelajaran terpaksa berbaur. Padahal idealnya dipisah sesuai kategori  kebutuhan peserta didik. Hal itu dikarenakan minimnya tenaga guru hingga kemauan siswa itu sendiri.

“Pelbagai prestasi sudah berhasil direngkuh SLBN Kuala Kurun, baik ditingkat kabupaten, provinsi maupun nasional. Diantaranya dari cabang olah raga, olimpiade matematika, bernyanyi, tata boga, dan lainnya,” pungkas Martha.

Menurutnya, bersekolah di SLBN Kuala Kurun tidak dipungut biaya alias gratis. Dirinya mengimbau, bagi masyarakat yang memiliki anak atau anggota keluarga berkebutuhan khusus agar disekolahkan.

“Syarat untuk mendaftarkan anaknya di sini, yaitu akta lahir, Kartu Keluarga, KTP orang tua, surat keterangan dokter terkait penyakit kronis, lalu meminta surat keterangan dari tenaga ahli terkait IQ calon peserta didik,” jelasnya. (hms/srn)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *