DPRD Kota Palangka Raya

Pandemi Covid-19, Wakil Ketua Komisi II DPRD Kota Soroti Perubahan Sistem Pembelajaran

Wakil Ketua II Komisi C DPRD Kota Palangka Raya Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Shopie Ariany memberi perhatian serius terhadap perubahan sistem pembelajaran sejak pemerintah menyatakan status siaga atas penyebaran virus corona atau Covid-19.

 

Gerakkalteng – PALANGKA RAYA – Wakil Ketua II Komisi C DPRD Kota Palangka Raya Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Shopie Ariany memberi perhatian serius terhadap perubahan sistem pembelajaran sejak pemerintah menyatakan status siaga atas penyebaran virus corona atau Covid-19.

Perubahan yang dimaksudkan terutama dalam kehidupan sehari- hari. Seperti halnya proses belajar mengajar (PBM) pada siswa tingkat sekolah kini beralih menggunakan sarana media online (daring).

“para guru harus memperhatikan perubahan sistem pembelajaran saat ini, dengan memberikan metode belajar mengajar yang berbeda. Selain itu, orang tua dan siswa harus secepatnya bisa beradaptasi dengan metode pembelajaran daring tersebut,” kata Shopie, minggu (2/8/2020)

Menurutnya, metode mengajar harus lah tetap menarik dan mampu mencapai tujuan pembelajaran meski dilakukan tanpa tatap muka fisik. sebagai lembaga DPRD akan terus mendorong agar anak-anak mendapatkan pendidikan yang layak, meskipun di tengah pandemi seperti sekarang.

Dirinya kembali menjelaskan, beda halnya dengan PBM tatap muka yang durasinya cukup panjang, sedangkan PBM daring durasi yang digunakan cukup terbatas. Hal ini menurutnya, dikarenakan dalam PBM daring guru sulit untuk menjelaskan secara langsung dan interaktif dengan siswa.

Untuk itu, ia berharap kepada lembaga pendidikan agar mampu memberikan materi yang ringkas dan dapat dipahami dengan mudah oleh para siswa maupun para orang tua yang mengawasi kegiatan belajar di rumah.

Namun yang perlu menjadi catatan bagi para guru ungkap Shopie, para siswa mulai merasa bosan dengan banyaknya tugas dalam bentuk latihan soal. Pemberian tugas terlalu banyak dikhawatirkan justru akan malah menjadi beban para siswa, sehingga pembelajaran dengan sistem online tidak optimal.

“Para pendidik bisa menyelipkan penugasan lain, seperti kegiatan praktek membuat sesuatu dengan menggunakan alat dan bahan yang ada di rumah. Sehingga siswa tidak merasa jenuh atau pun bosan dengan tugas latihan soal saja. Selain itu ada baiknya para guru tidak langsung memberikan tugas, namun memberikan pembelajaran terlebih dahulu sebelumnya. Mengingat pola pikir orangtua siswa yang berbeda-beda,” bebernya.

Dirinya mendorong agar para guru mampu menyatukan persepsi dan konsentrasi anak-anak didik dimana antara satu dan lainnya yang serba berjauhan. Tentunya hal tersebut dapat dilakukan oleh para guru yang memiliki visi yang jelas dalam pembelajaran dan mampu menjalin ikatan batin dengan siswa dengan melakukan perannya sebagai motivator, fasilitator, mediator, dan komunikator.

“Memang pandemi ini sedikit banyak mempengaruhi sistem pendidikan anak kita. Namun kita harap hal itu tidak menjadi halangan agar anak kita terus meraih haknya dalam pendidikan. Kita mendorong agar sistem pembelajaran online ini bisa mempermudah siswa, tenaga pengajar dan kita sebagai orang tua dengan berbagai inovasi yang ada, Bukan justru menjadi penghalang,” tutupnya.(*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *