Barito SelatanDPRD Barito SelatanHEADLINE

Lantaran Lambat Ditangani, Bayi Ini Tewas Sesak Nafas

"Namun sang bidan tidak bisa datang, karena beralasan mau rapat ke Buntok," ucapnya membuka cerita.

FOTO : Anak dari Pasutri Ridwan (25) dan Fitriah (21), warga Desa Tanjung Jawa, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan yang meninggal dunia pada Sabtu (26/10/2019) lalu karena bidan tidak berada di tempat.

gerakkalteng.com – BUNTOK – Nahas nian nasib pasangan suami istri (pasutri) Ridwan (25) dan Fitriah (21), warga Desa Tanjung Jawa, Kecamatan Dusun Selatan, Barito Selatan (Barsel). Karena bidan tak kunjung datang, bayi mereka yang baru lahir tewas akibat sesak nafas, Sabtu (26/10/2019) lalu.

Berdasarkan cerita Ridwan, mulai pukul 05.00 WIB isterinya sudah mulai kontraksi. Kemudian kakak iparnya menelepon sang bidan yang bertugas di desa tersebut.

“Namun sang bidan tidak bisa datang, karena beralasan mau rapat ke Buntok,” ucapnya membuka cerita.

Sekitar pukul 07.00 WIB, dengan dibantu oleh tetangga, anaknya lahir dengan selamat, namun sudah sesak bernafas seperti ada yang mengganjal di dalam hidung, berbunyi seperti orang mengorok.

Sambung Ridwan lagi, sang bidan sebenarnya berjanji akan datang pada siang atau sore harinya seusai mengikuti rapat, untuk kemudian membantu mengeluarkan air ketuban dengan alat yang dimiliki bidan tersebut. Sebab itulah dirinya kemudian tidak membawanya ke rumah sakit, serta alat transportasi yang susah dari desa Tanjung Jawa menuju Buntok.

“Mendengar hal tersebut kami menunggu-nunggu bidan itu datang. Pada sore hari anak saya sudah mulai pucat, dari bagian kaki hingga wajah. Namun hingga anak kami meninggal pukul 17.00 WIB, bidan tersebut tidak juga datang,” tuturnya sedih.

Bidan tersebut sebenarnya sempat datang ke Desa Tanjung Jawa dan bertemu kakak iparnya dijalan. Namun sayangnya ia tidak datang kerumah mertua Ridwan, karena beralasan mau ke Buntok lagi, untuk menjemput sang ibu.

“Sebenarnya saya tidak ingin mempermasalahkan kejadian ini. Namun karena mengganjal dihati tidak bisa saya tahan-tahan lagi. Lalu saya bikin postingan keluhan di grup facebook Aspirasi Masyarakat Barito Selatan. Oleh karena postingan tersebut, bidan yang bersangkutan beserta sang ibu marah-marah mendatangi rumah mertua saya, menyuruh untuk menghapus postingan  dan mau melaporkan saya balik,” sesalnya.

Lanjut Ridwan lagi, dirinya heran, ibu si bidan berkata mau melaporkan balik, padahal dirinya tidak ada melaporkan mereka dan bahkan dalam postingannya di grup Facebook, dirinya tidak menyebutkan nama si bidan.

Ia mengaku, semua ini ia lakukan, semata-mata hanya agar menjadi pelajaran bagi para bidan, untuk selalu siap sedia ketika dibutuhkan di di desa nya masing-masing dan memberikan pelayanan terbaik. Agar kejadian yang dirinya alami ini, tidak terjadi lagi kepada orang lain.

“Saya heran, mereka itu bisa kerumah mertua saya untuk marah-marah. Namun saat diperlukan untuk menolong anak saya, tidak bisa datang,” kesalnya.

Sementara itu, akun facebook dengan inisial PP dalam komentarnya, mengancam akan melaporkan Ridwan terkait postingannya tersebut.

“Siap kak.. Bikoor kmi sdh melakukan koordinasi dengan bidan yang bertugas, Ka. Puskesma, Dinkes, Kepolisian, pihak Aparat Desa dan Keluarga. Untuk d lakukan pertemuan atas dasar apa membuat status menyalahkan bidan yang bertugas. Keputusan selanjutnya akan diserahkan kepada pihak yang berwajib apakah masuk kedalam pencemaran nama baik orang dan instansi terkait,” tulisnya.

Namun pada saat dikonfirmasi oleh awak media, Senin (4/11/2019) melalui pesan singkat, PP enggan memberikan keterangan terkait informasi masalah tersebut.

“Maaf Mas..kami tdk bisa mberikan informasi lbh lanjut terkait privasi..trims,” sebutnya.

Hingga berita ini diturunkan, ketika dihubungi via pesan singkat, Kepala Dinas Kesehatan Barsel, dr. Djulita Kapalar, belum memberikan jawaban apapun menyangkut masalah ini. (Petu)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *