Kotawaringin Timur

Berharap Abrasi Ujung Panadaran Segera Ditangani

"Menurut Informasi di tahun 2021 ini rencananya ada kucuran dana APBN sekitar Rp18 miliar. Mudah-mudahan segera turun, sehingga dapat dilaksanakan pembangunan lanjutan tanggul, karena kita berpacu dengan waktu untuk mencegah kerusakan lebih parah lagi," sampai Juliansyah.

GERAKKALTENG.com – SAMPIT – Abrasi Pantai Ujung Pandaran makin parah. Sejumlah aset wisata milik pemerintah daerah seperti jalan, gazebo, rumah betang dan pondok terkena imbasnya. Bahkan kini abrasi telah merusak jalan dan musala dekat kubah atau makam ulama di arah timur pantai tersebut.

Camat Teluk Sampit Juliansyah berharap Pemkab Kotawaringin Timur (Kotim) maupun Pemprov Kalteng berharap pembangunan lanjutan tanggul penahan gelombang di Pantai Ujung Pandaran bisa dipercepat, hal ini untuk menyelamatkan objek wisata itu dari abrasi yang terus terjadi.

“Menurut Informasi di tahun 2021 ini rencananya ada kucuran dana APBN sekitar Rp18 miliar. Mudah-mudahan segera turun, sehingga dapat dilaksanakan pembangunan lanjutan tanggul, karena kita berpacu dengan waktu untuk mencegah kerusakan lebih parah lagi,” sampai Juliansyah.

Dia mengatakan, pada 2019 lalu, pemerintah pusat membangun tanggul penahan gelombang di lokasi obyek wisata pantai Ujung Pandaran yang dikelola oleh Pemkab Kotim. Langkah tersebut sangat efektif karena kawasan di belakang tanggul yang dibangun tersebut sudah aman dari abrasi.

“Yang menjadi masalah saat ini adalah masih banyak lokasi yang belum terlindungi tanggul sehingga terus tergerus abrasi akibat kuatnya gelombang Laut Jawa yang sampai ke pantai tersebut. Akibatnya, sebuah kubah atau makam seorang ulama yang terletak di arah timur Pantai Ujung Pandaran, terancam tergerus abrasi. Kubah tersebut merupakan makam ulama bernama Syekh Abu Hamid bin Syekh Haji Muhammad As`ad Al Banjari,” terang Juliansyah.

Menurutnya, kubah itu menjadi objek wisata religi dan banyak didatangi peziarah dari luar daerah, tetapi saat ini keberadaannya terancam akibat abrasi yang terus menggerus pantai.

Dan jalan menuju kubah sudah terputus oleh abrasi sehingga peziarah harus menggunakan kelotok, Bahkan musala yang berjarak beberapa meter dari kubah sebagian bangunannya sudah ambruk akibat pondasinya ambles digerus abrasi.

“Karena di sekitar kubah tidak ada tanggul penahan ombak, maka musala didekat kubah sudah hancur terkena abrasi, kalau tidak dibuat tanggul dikhawatirkan beberapa tahun ke depan abrasi juga akan merusak kubah tersebut,” ujar Juliansyah.

Ia berharap pembangunan lanjutan tanggul tersebut segera dilakukan. Selain dari dana pemerintah pusat melalui APBN, juga ada dukungan dari pemerintah provinsi dan Kabupaten untuk membuat tanggul sehingga obyek wisata kebanggaan masyarakat Kabupaten Kotim dapat diselamatkan.

“Kami berharap pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten dapat segera membangun tanggul agar obyek wisata kita dapat terselamatkan,” tutupnya. (sog/agg)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *