DPRD Kotawaringin TimurKotawaringin Timur

Lestarikan Kesenian Budaya Lokal

“Misalnya saja kesenian daerah Babukung, inikan belum tentu ada daerah lain. Makanya dari itu selain jadi identitas satu daerah juga berpotensi untuk dikembangkan pariwisata yang diminati,” jelas, Senin (24/2/2020).

gerakkalteng.com – SAMPIT – Sekda Kabupaten Kotawaringin Timur, Halikinnor menanggapi serius terkait kesenian daerah yang ada di Bumi Habaring Hurung ini. Menurutnya, kesenian daerah itu merupakan identitas bagi daerah itu. Jadi, dengan kata lain pelaku seni ini harus bisa menciptakan regenerasi untuk melestarikan kesenian daerah ini agar terus berkembang ke depannya.

“Misalnya saja kesenian daerah Babukung, inikan belum tentu ada daerah lain. Makanya dari itu selain jadi identitas satu daerah juga berpotensi untuk dikembangkan pariwisata yang diminati,” jelas, Senin (24/2/2020).

Halikinnor menegaskan, kesenian daerah itu bukan hanya dipertahankan saj juga dikemas dan dikembangkan supaya menjadi kekayaan bagi daerah.

“Apalagi ini salah satu tujuan wisata di Kotim nantinya. Nanti, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) dan para pegiat seni bisa bersinergi untuk bisa bekerjasama untuk melestarikan dan mengembangkan kesenian daerah tersebut,” pintanya.

Dirinya juga meminta, kesenian daerah itu bukan hanya kesenian Dayak saja akan tetapi nantinya ada kesenian reok, barongsai dan lain sebagainya. Ini yang harus dilestarikan keberadaannya.

“Saya ingin kesenian Dayak itu menjadi motor penggerak, contoh buat kesenian daerah yang lainnya,” harap Sekda.

Halikinnor menyebutkan, jika kesenian daerah ini dikembangkan dan geluti serius serta dukungan dari pemerintah daerah tentunya menjadi kekuatan bagi daerah. Tentu akan berdampak pada orang yang akan datang ke Kotim ini nantinya.

“Selain kita ingin para pegiat seni terus berkarya dan lebih giat lagi dalam memberikan pengalaman dan bakatnya kepada yang ingin melestarikan kesenian daerah. Sebab, berbagai macam kesenian yang ada di Kotim khususnya kesenian Dayak ini patut kita tumbuh kembangkan,” terangnya.

Tambahnya, untuk Disbudpar agar kegiatan seperti Memapas Lewu yang biasanya digelar satu tahun sekali bisa dibarengi dengan kegiatan Hari Kebangkitan Suku Dayak yang jatuh pada 21 Februari.

“Nanti saya sampaikan kepada Disbudpar agar momentum bersejarah ini dijadikan forum silaturahmi orang Dayak dan saya harapkan agar pelaku seni bisa mempersiapkan diri untuk bisa terlibat jika kegiatan ini bersama-sama digelar,” pungkas Halikinnor. (sog/agg)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *