DPRD Kotawaringin Timur

Pupuk Subsidi Jadi Keluhan Petani di Kotim

“Harganya hampir setara dengan harga pupuk non subsidi, selain itu juga langka didapatkan,” terangnya.

 

GERAKKALTENG.com – SAMPIT – Wilayah Selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yaitu Kecamatan Teluk Sampit telah ditetapkan oleh pemerintah daerah sebagai lumbung padi untuk ketahanan pangan. Akan tetapi, dari segi ketersediaan pupuk subsidi sangatlah terbatas bahkan nyaris tidak tersedia dan harganya juga cukup mahal.

Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Kotim Hj Darmawati meminta pemerintah daerah agar mengawasi harga pupuk. Hal ini dikarenakan para petani padi di wilayah selatan mengeluhkan mahalnya harga pupuk saat ini, kenaikannya cukup tinggi, sehingga membuat para petani kesulitan untuk membelinya.

“Harganya hampir setara dengan harga pupuk non subsidi, selain itu juga langka didapatkan,” terangnya.

“Para petani di wilayah selatan yang merupakan lumbung padi daerah ini mengeluh karena pupuk subsidi sangat langka didapat seandainya ada itupun harganya sudah tidak subsidi, maka kami meminta pemerintah daerah untuk memastikan ketersediaan stok pupuk bersubsidi aman guna meringankan beban petani yang terdampak tingginya harga pupuk non subsidi,” kata Darmawati, Jumat (4/2/2022).

Menurutnya harga pupuk non subsidi ini menyebabkan sejumlah masalah seperti terhambatnya produksi serta semakin tingginya harga komoditas pangan, maka pihaknya mendesak agar pemerintah daerah aktif dalam hal tingkat pengawasan penyaluran, sehingga penyaluran dari distributor itu bisa dipastikan harga tidak dimainkan dan benar- benar sampai kepada petani

“Kami melihat kurangnya pengawasan di lapangan sehingga mempermudah oknum untuk mengalihkan pupuk subsidi yang sebenarnya diperuntukan bagi para petani, maka kami minta dinas pertanian harus memperhatikan keluhan para petani, Bukan hanya mendengarkan keluhan mereka saja, tetapi juga bagaimana berikan solusi tepat,” ujar Darmawati

Dirinya juga mengatakan kondisi ini cukup ironis, Pemerintah daerah mendorong petani terus meningkatkan produksi pertanian, baik melalui program intensifikasi maupun ekstensifikasi. Tetapi fakta di lapangan masih ada kendala yang dihadapi oleh para petani, diantaranya dalam hal mendapatkan pupuk bersubsidi tersebut. (tri/sog)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *